Pada zaman Hindu-Buddha, Lampung termasuk daerah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Hal ini ditandai oleh prasasti dari Datu (Raja) Sriwijaya bertarikh 608 Saka (686 Masehi) yang ditemukan di desa Palas Pasemah, daerah Kalianda. Berita Tionghoa juga menyebutkan kerajaan To-lang-po-hwang, dan mungkin nama itu sebutan Cina untuk Tulangbawang. Tetapi sampai kini belum ada bukti prasasti tertulis yang menunjang adanya kerajaan tersebut.

Di desa Bawang, antara Liwa dan Gunung Pesagi, ditemukan prasasti Hujung Langit yang bertarikh 9 Margasira 919 Saka (12 November 997 Masehi), sebagaimana tercantum dalam buku Prof Dr Louis-Charles Damais, Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta, 1995, hh.26-45. Nama raja yang mengeluarkan prasasti itu tercantum pada baris ke-7, menurut pembacaan Prof Damais namanya Sri Haridewa. Inilah nama raja di daerah Lampung yang pertama kali ditemukan pada prasasti! Melihat lokasinya, barangkali prasasti tersebut ada hubungannya dengan Kerajaan Sekalabrak yang legendaris itu.

Pada abad ke-14 tercatat Kerajaan Buway Tumi. Menurut sumber sejarah Sunda, salah seorang putri Buway Tumi yang bernama Dewi Ratna Sarkati diambil menjadi permaisuri Prabu Wastu Kancana dari Kerajaan Sunda. Menurut cerita turun-temurun, Dewi Ratna Sarkati membawa pisang muli (bahasa Lampung: muli = gadis) ke tanah Sunda, yang sampai sekarang tetap disebut “cau muli” oleh masyarakat Jawa Barat.

Bersamaan dengan masuknya agama Islam dari Banten ke Lampung pada masa Sultan Maulana Hasanuddin abad ke-16, Lampung berada di bawah pengaruh Kesultanan Banten. Konon kabarnya Fatahillah (panglima Demak asal Pasai, pendiri kota Jakarta, dan pelopor pengislaman Banten) menikahi Putri Sinar Alam dari Keratuan Darah Putih di Lampung. Menurut Thomas Walker Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam, yang diterjemahkan oleh Nawawi Rambe, Sejarah Da’wah Islam (Widjaya, Jakarta, 1979, h. 324), Islam masuk ke Lampung dari Banten dengan dibawa oleh seorang pemimpin adat Lampung yang bernama Minak Kemala Bumi.

Daerah Lampung dibagi menjadi beberapa ‘kejonjoman’ (semacam kabupaten) yang masing-masing dikepalai seorang jonjom mewakili sultan Banten. Ketika Banten dikalahkan VOC pada abad ke-18 (sekitar tahun 1750), Lampung ikut menjadi daerah jajahan Belanda. Tetapi ini hanya di atas kertas perjanjian VOC dengan Banten, sebab kenyataannya kekuasaan kolonial baru tertanam di Lampung pada tahun 1817, dengan terbentuknya Lampongsche Districten di bawah seorang residen yang berkedudukan di Terbanggi. Pada tahun 1847, pemerintah Hindia-Belanda memindahkan ibukota (kedudukan residen) dari Terbanggi ke Teluk Betung.

Perlawanan yang terkenal dalam menentang kolonialisme Belanda adalah Perang Lampung (Lampong Oorlog) pada abad ke-19 yang dilancarkan oleh Radin Intan dari Kalianda selama 30 tahun (1826-1856), sezaman dengan Perang Jawa dari Pangeran Diponegoro serta Perang Paderi dari Tuanku Imam Bonjol. Perang Lampung berakhir dengan gugurnya Radin Intan. Kini Radin Intan telah ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai salah seorang Pahlawan Nasional.

Pada tahun 1917 daerah Lampung dibagi menjadi dua afdeling dan enam onderafdeling. Pertama, Afdeling Teluk Betung yang meliputi Onderafdeling Teluk Betung, Semangka, dan Katimbang. Kedua, Afdeling Tulang Bawang yang meliputi Onderafdeling Tulang Bawang, Seputih, dan Sekampung.

Di zaman pendudukan Jepang (1942-1945), daerah Lampung berada di bawah pimpinan seorang Suchokkan Kakka, dan dibagi dalam tiga bunshu (Telukbetung, Metro, Kotabumi). Setiap bunshu terdiri dari beberapa gun (kewedanaan) yang membawahi marga-marga.

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, daerah Lampung menjadi keresidenan yang tergabung ke dalam Propinsi Sumatera Selatan yang beribukota di Palembang. Baru pada tahun 1964, melalui UU No.14 Tahun 1964, terbentuklah Propinsi Lampung dengan ibukota Tanjungkarang-Telukbetung (sekarang menjadi Bandar Lampung).

Ada adi-adi yang populer pada tahun 1964/1965 ketika Lampung baru menjadi provinsi:

Lah lawi matti hanjak, patut ni ram bugindang
Ngaliyak Lampung minjak, bupisah jak pulimbang.